Serangan Udara di Gaza Tewaskan 21 Orang di Gaza, Hamas Tuduh Pelanggaran Gencatan Senjata
Jangkauan Jakarta Pusat – Serangan Udara di Gaza Ketegangan kembali meningkat di Gaza menyusul serangan udara oleh militer Israel yang menewaskan 21 warga Palestina, termasuk beberapa anak dan perempuan, menurut laporan otoritas kesehatan di Gaza. Hamas menuduh Israel dengan tegas telah melanggar gencatan senjata yang rapuh, memicu kekhawatiran bahwa ketenangan yang sempat tercipta bisa runtuh kembali.
Serangan Udara di Gaza Kronologi Serangan Terbaru
Pada Sabtu malam (22 November 2025), pesawat tempur Israel melancarkan beberapa serangan udara ke wilayah Jalur Gaza, menjangkau area pemukiman dekat “garis kuning” — zona yang secara formal menjadi bagian buffer setelah mundurnya pasukan Israel.
Korban tewas 21 orang tersebut dilaporkan oleh Badan Pertahanan Sipil Gaza (Civil Defence), yang dikelola oleh otoritas di bawah kendali Hamas.
Menurut laporan, serangan menargetkan rumah-rumah dan apartemen di beberapa titik, termasuk di wilayah Nuseirat (Gaza tengah) dan Al-Nasr (Kota Gaza).
Militer Israel mengatakan bahwa tindakan tersebut adalah respons terhadap kejadian di mana mereka mengklaim bahwa “teroris bersenjata” menembaki pasukan Israel dari dalam zona yang semestinya aman.
Baca Juga: Rusia Sindir Skandal Korupsi Ukraina di Tengah Perang
Tuduhan dari Hamas: Gencatan Senjata Dilanggar
Hamas, melalui juru bicara dan pejabat pertahanan sipil Gaza, menyatakan serangan udara ini sebagai pelanggaran jelas terhadap gencatan senjata.
Menurut mereka, gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025 kini terancam runtuh karena eskalasi militer dari pihak Israel.
Serangan Udara di Gaza Dampak Korban dan Situasi Kemanusiaan
Korban tewas 21 orang ini menambah daftar panjang warga sipil yang menjadi korban konflik bersenjata.
Selain hilangnya nyawa, serangan ini menimbulkan luka dan trauma pada korban serta keluarganya. Beberapa rumah hancur, dan banyak warga yang takut kembali ke tempat tinggal mereka.
Reaksi Internasional dan Tantangan Gencatan Senjata
Tegangan internasional kembali muncul: insiden ini menjadi ujian besar bagi mediator gencatan senjata, termasuk negara-negara yang terlibat dalam mediasi perdamaian.
Pengamat menyebut bahwa gencatan senjata yang rapuh rentan runtuh bila salah satu pihak terus melakukan serangan militer terhadap warga sipil.
Analisis: Mengapa Insiden Ini Penting
Keabsahan Gencatan Senjata
Kasus ini menjadi bukti bahwa gencatan senjata antara Israel dan Hamas sangat rapuh.
Risiko Perang Kembali
Serangan balik oleh pihak Palestina sangat mungkin terjadi. Eskalasi ini bisa memicu gelombang baru pertempuran dan kerusakan infrastruktur sipil yang parah.
Banyak yang sudah kehilangan tempat tinggal, sumber penghidupan, dan merasa tidak aman.
Peran Dunia Internasional
Pihak penengah harus lebih tegas dalam menegakkan persyaratan dan mekanisme pengawasan gencatan senjata.
